Penulis ; Fina Yuli Asri Indah Arum, mahasiswa prodi Ekonomi Universitas Amikom Yogyakarta
Kehilangan kepala keluarga sering kali menjadi pukulan berat, baik secara emosional maupun ekonomi. Banyak yang wafat akibat sakit menahun, kecelakaan kerja, maupun faktor usia, dan hal itu meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan.
Anak-anak terancam putus sekolah, istri mendadak harus mencari nafkah, dan keluarga kerap bingung memulai kembali kehidupan. Menjawab persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Ngawi menghadirkan program Kartonyono Nyambung Janji sebagai jembatan harapan bagi keluarga yang sedang berduka.
Program ini merupakan kolaborasi antara Bappeda Ngawi, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), serta BPJS Ketenagakerjaan. Tujuannya sederhana namun berdampak besar: memastikan kehilangan seorang kepala keluarga tidak berarti hilangnya masa depan.
Penerima manfaat adalah ahli waris peserta BPJS Ketenagakerjaan yang sudah tiada, sehingga skema bantuan tidak hanya berupa santunan, tetapi juga dukungan berkelanjutan seperti beasiswa bagi anak-anak serta pelatihan usaha untuk para ibu.
Hingga Mei 2025, tercatat 279 anak di Ngawi telah menerima beasiswa dengan total bantuan mencapai Rp815,5 juta. Bantuan ini membuat banyak anak tetap bisa melanjutkan pendidikan, mulai dari tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Di balik angka tersebut tersimpan ratusan kisah nyata, dari anak yang bisa terus bersekolah hingga yang berhasil mendaftar kuliah tanpa lagi dibayangi kecemasan soal biaya.
Tidak berhenti pada pendidikan, program ini juga memberikan pelatihan usaha bagi keluarga yang ditinggalkan. Mereka dibekali keterampilan seperti mengelola usaha kecil, beternak, hingga mengolah produk pangan. Sejumlah keluarga bahkan mulai merintis UMKM dengan dukungan koperasi desa maupun BUMDes. Pendekatan ini menjadikan Kartonyono Nyambung Janji bukan sekadar program bantuan sosial, melainkan model pemberdayaan ekonomi berbasis kekeluargaan.
Partisipasi masyarakat dan desa terus meningkat sejak program ini diluncurkan. Dari awalnya hanya menjangkau puluhan anak, kini penerima manfaat telah mencapai ratusan. Sinergi dengan BPJS Ketenagakerjaan juga semakin kuat, sehingga program turut membantu menekan potensi munculnya keluarga miskin baru. Data Bappeda mencatat, angka kemiskinan Ngawi turun dari 13,26% pada 2022 menjadi 12,51% pada 2024, dan Kartonyono Nyambung Janji menjadi salah satu faktor yang berkontribusi.
Ke depan, program ini diharapkan dapat dikembangkan lebih inovatif. Misalnya dengan integrasi koperasi desa berbasis modal bersama, pelatihan kewirausahaan digital yang membuka akses pasar online, hingga pendampingan pemasaran UMKM keluarga penerima manfaat. Selain itu, sistem monitoring berbasis aplikasi juga dapat dirancang untuk memantau perkembangan anak penerima beasiswa dan kemandirian ekonomi keluarga, sehingga keberlanjutan program lebih terukur.
Kartonyono Nyambung Janji menjadi bukti bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya tentang infrastruktur fisik. Lebih dari itu, ekonomi juga soal menjaga anak-anak tetap bisa sekolah, memberdayakan ibu-ibu rumah tangga, dan memastikan keluarga tetap memiliki harapan meski kehilangan nakhkodanya.
Penulis ; Fina Yuli Asri Indah Arum, mahasiswa prodi Ekonomi Universitas Amikom Yogyakarta
![]()
