You are currently viewing Kembali Suci

Kembali Suci

Lukman Hakim
(Pimpred Nenemonews/Dosen Tetap IIB Darmajaya)

HARI kemenangan selalu datang dengan cahaya yang berbeda. Setelah Ramadhan menempah jiwa dalam kesabaran dan keikhlasan, Idul Fitri 1447 Hijriah hadir sebagai fajar yang menyingkap malam panjang. Ia bukan sekadar perayaan, melainkan tanda bahwa manusia mampu kembali pada fitrah, pada kesucian yang pernah dijanjikan sebelum lahir ke dunia.

Lebaran adalah pelabuhan setelah perjalanan panjang. Seperti kapal yang kembali ke dermaga, hati pun pulang dengan muatan doa dan harapan. Di sinilah manusia belajar bahwa kemenangan sejati bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan menundukkan ego, menaklukkan hawa nafsu, dan menyalakan cahaya iman.

Hari raya adalah jembatan yang menghubungkan manusia dengan manusia. Ia hadir dalam maaf yang tulus, dalam pelukan yang hangat, dalam senyum yang menghapus jarak. Seperti hujan yang turun tanpa memilih tanah, Idul Fitri menetes ke setiap jiwa yang mau menerima, menyuburkan persaudaraan, dan menumbuhkan kasih sayang.

Idul Fitri juga adalah lentera yang menuntun langkah. Ia tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menenangkan hati yang resah. Kesucian yang lahir dari Ramadhan menjadi kompas, mengarahkan manusia kembali pada asal mula yang murni, pada kehidupan yang lebih damai dan penuh keberkahan.

Hari kemenangan ini adalah pernyataan bahwa setiap gelap punya ujung, setiap luka punya obat, dan setiap perjalanan punya tujuan. Seperti fajar yang menyingkap malam, Idul Fitri adalah tanda bahwa manusia selalu punya kesempatan untuk kembali terang, kembali suci, kembali dekat dengan Allah.

Dan akhirnya, Idul Fitri 1447 Hijriah adalah bukti bahwa kesabaran tidak pernah sia-sia. Ia adalah mahkota bagi mereka yang berjuang, pelukan bagi mereka yang memaafkan, dan cahaya bagi mereka yang berharap. Inilah kemenangan sejati: bukan sekadar pesta, melainkan kepulangan jiwa pada fitrah, pada suci yang abadi. (**)

Loading