Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat sinergi lintas sektor untuk menjaga ketersediaan pasokan serta stabilitas harga bahan pangan menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Langkah ini dilakukan agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat tidak terganggu saat konsumsi meningkat.
Kebijakan tersebut disampaikan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, saat memimpin High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di Kantor Perwakilan **Bank Indonesia Provinsi Lampung. Pertemuan itu dihadiri unsur Forkopimda, kepala daerah kabupaten/kota, serta pimpinan instansi terkait.
Gubernur menegaskan bahwa setiap tahun Ramadan selalu diikuti lonjakan konsumsi masyarakat. Jika tidak diantisipasi dengan baik, peningkatan permintaan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga pangan yang signifikan.
Ia mencontohkan, kenaikan harga cabai sebesar Rp5.000 hingga Rp10.000 saja dapat berdampak besar secara akumulatif karena dikonsumsi oleh jutaan penduduk. Hal yang sama berlaku pada komoditas lain seperti daging ayam yang kebutuhannya mencapai jutaan ekor setiap bulan.
Sebagai daerah penghasil pangan, Lampung diminta memprioritaskan pemanfaatan produksi lokal guna menjaga stabilitas harga. Pemerintah daerah menargetkan ketersediaan beras, cabai, bawang, daging, dan telur tetap aman hingga setelah Lebaran.
Gubernur juga menekankan agar TPID tidak bekerja secara reaktif. Intervensi pasar yang dilakukan berulang tanpa perbaikan sistem distribusi dan tata niaga dinilai hanya akan menjadi solusi jangka pendek.
Dari sisi penegakan hukum, Kepolisian Daerah Lampung melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus telah membentuk Satuan Tugas Saber Pangan. Satgas ini bertugas mengawasi pelanggaran harga, mencegah penimbunan, serta menindak praktik spekulasi yang merugikan masyarakat.
Pihak kepolisian juga berencana melakukan inspeksi mendadak ke produsen dan distributor besar. Kenaikan harga masih ditoleransi sepanjang berada dalam batas kewajaran, yakni maksimal lima persen di atas Harga Eceran Tertinggi.
Berdasarkan analisis ekonomi dari Bank Indonesia, inflasi tahunan Lampung relatif terkendali. Namun komoditas pangan bergejolak seperti cabai dan bawang tetap perlu diwaspadai karena rentan mengalami lonjakan harga akibat faktor produksi dan distribusi.
Pemerintah Provinsi Lampung juga memaparkan kondisi neraca pangan daerah. Stok beras, jagung, daging ayam, dan telur dinyatakan dalam kondisi aman dan surplus. Sementara itu, bawang merah dan bawang putih memiliki ketahanan stok yang lebih terbatas sehingga perlu perhatian khusus. Cabai rawit juga diperkirakan mengalami kenaikan harga menjelang Ramadan.
Perum Bulog memastikan cadangan beras pemerintah di Lampung sangat mencukupi. Stok yang tersedia bahkan diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun. Bulog juga siap menyalurkan beras program stabilisasi harga serta melakukan operasi pasar jika diperlukan.
Selain pangan, sektor transportasi turut menjadi perhatian karena meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode mudik. Pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi kepadatan di Pelabuhan Bakauheni.
Kapasitas penyeberangan disebut meningkat dengan adanya tambahan dermaga dan kapal baru. Di sisi lain, Bandara Radin Inten II kini kembali berstatus internasional dengan rute penerbangan langsung ke Kuala Lumpur, yang diharapkan mendukung kelancaran arus penumpang.
Melalui koordinasi lintas sektor tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung optimistis stabilitas pasokan dan harga pangan dapat terjaga selama Ramadan hingga Idul Fitri, sekaligus memastikan mobilitas masyarakat berlangsung aman dan lancar.
![]()
