Bojonegoro, nenemonews — Di tengah tekanan perubahan iklim dan naiknya biaya produksi pertanian, langkah Kanjani, petani asal Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, menjadi contoh nyata bahwa sektor pertanian mampu bertahan bahkan berkembang melalui inovasi dan pendekatan berkelanjutan.(20/12/2025)
Kanjani membuktikan bahwa bertani tidak semata soal menanam dan memanen, tetapi juga tentang pengelolaan lingkungan, efisiensi biaya, serta pemanfaatan teknologi informasi. Melalui penerapan metode pertanian ramah lingkungan, ia berhasil meningkatkan produktivitas panen sekaligus menekan biaya produksi secara signifikan, sehingga berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani.
Tak hanya berhenti di lahan pertanian, Kanjani juga aktif berbagi pengetahuan melalui berbagai platform digital. Ia gencar mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda, agar pertanian dipandang sebagai sektor yang modern, inovatif, dan menjanjikan.
Menurutnya, keberhasilan tersebut bertumpu pada dua konsep utama, yakni pemanfaatan Mikroorganisme Lokal (MOL) dan Pestisida Nabati (Pesnab). MOL merupakan pupuk cair organik yang dibuat dari bahan-bahan sederhana dan mudah didapat, seperti nasi basi, limbah buah, atau rebung bambu. Selain murah, MOL mampu menyuburkan tanah secara alami dan mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
Sementara itu, Pesnab digunakan sebagai pengendali hama berbahan dasar ekstrak tumbuhan, seperti daun mimba, bawang putih, dan tembakau. Metode ini dinilai lebih aman karena tidak meninggalkan residu kimia berbahaya, serta menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
“Dengan MOL dan Pesnab, biaya pupuk bisa ditekan hingga sekitar 50 persen. Dampaknya sangat terasa, keuntungan meningkat dan kualitas hasil panen, khususnya beras organik, jauh lebih baik dan diminati pasar,” jelas Kanjani.
Ia pun mengajak masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung gerakan pertanian ramah lingkungan serta mulai beralih menggunakan dan mengonsumsi produk pangan lokal yang sehat dan bebas bahan kimia. Menurutnya, langkah kecil dari petani lokal dapat menjadi fondasi kuat bagi ketahanan pangan yang berkelanjutan. (Agus)
