You are currently viewing Geliat Ekonomi dari Kios Kecil ke Rumah Pejabat

Geliat Ekonomi dari Kios Kecil ke Rumah Pejabat

BANDAR LAMPUNG , Nenemonews – Geliat di sebuah sudut sederhana di Lampung, berdiri kios kecil yang menjual gordyn dengan nama Gusty Interior, sebuah toko kecil dan usaha gordyn. Tepatnya di kawasan Jalan Imam Bonjol , Gedongair, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung.

Tidak ada papan besar,hanya bentangan spanduk ukuran 50 centimeter X 75 centimeter. Tidak ada etalase mewah, hanya ruang terbatas dengan tumpukan kain gordyn yang digantung sedikit tak rapi. Namun, dari tempat sederhana itu, lahirlah kisah inspiratif seorang pengusaha UMKM bernama Zulfili.

Usaha yang ia rintis lebih dari 20 tahun dengan penuh keterbatasan kini mampu menembus pasar hingga ke berbagai daerah di Provinsi Lampung, bahkan menjadi pilihan kalangan pejabat. Zulfili mengisahkan bagaimana awalnya ia hanya melayani pelanggan sekitar.

Produk gordyn yang ditawarkan sederhana, namun kualitas dan konsistensi membuatnya perlahan dikenal. “Saya tidak pernah membayangkan produk dari kios kecil bisa sampai ke rumah pejabat. Itu semua berawal dari kepercayaan pelanggan,” ungkapnya.

Kepercayaan itu tumbuh seiring dengan komitmen Zulfili menjaga kualitas. Ia tidak hanya menjual gordyn, tetapi juga menghadirkan layanan yang ramah dan personal. Bagi Zulfili, pelanggan bukan sekadar pembeli. Mereka adalah bagian dari perjalanan usaha ini.

Filosofi sederhana itu membuat Gusty Interior berbeda dari banyak usaha sejenis. “Saya selalu berusaha mendengar kebutuhan pelanggan. Kadang mereka ingin desain khusus, kadang ingin harga yang lebih fleksibel. Saya mencoba menyesuaikan tanpa mengorbankan kualitas,” kata dia, semangat.

Transformasi digital kemudian menjadi pintu baru bagi Gusty Interior. Meski berawal dari kios kecil, kini produk gordyn milik Zulfili bisa menjangkau konsumen di berbagai daerah. “Saya belajar sedikit demi sedikit tentang pemasaran online. Ternyata, itu membuka jalan yang lebih luas,” kata Izul, panggilan akrab ayah dua anak itu.

Dengan memanfaatkan platform digital, ia mampu memperluas jangkauan pasar tanpa harus membuka cabang fisik. Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa UMKM Lampung mampu beradaptasi dengan tren perdagangan modern. Dari pemasaran digital hingga jaringan distribusi sederhana, Gusty Interior terus mencari cara agar tetap relevan. “Kami tidak boleh berhenti belajar. Pasar selalu berubah, dan kami harus ikut bergerak,” ujar Zulfili.

Semangat belajar itu membuatnya mampu mengikuti tren seperti pemasaran afiliasi dan promosi melalui media sosial. Kini, Gusty Interior bukan hanya sekadar usaha gordyn. Ia menjadi simbol perjuangan UMKM Lampung yang berangkat dari kios kecil, namun mampu menembus batas. Dari ruang sederhana, kini ia dikenal di berbagai daerah, bahkan di kalangan pejabat.

Kisah ini membuktikan bahwa dengan kerja keras, inovasi, dan dukungan ekosistem, UMKM lokal bisa tumbuh menjadi pemain penting dalam ekonomi daerah. Lampung pun menegaskan posisinya sebagai daerah yang serius mendukung UMKM.

 Butuh Support dan Perhatian
Sinergi antara pengusaha seperti Zulfili, organisasi seperti Asosiasi pengusaha Indonesia (APINDO), dan peran media menjadikan Lampung bagian dari wajah baru ekonomi Indonesia. Kisah ini bukan hanya tentang gordyn, tetapi tentang mimpi besar UMKM lokal yang kini mulai terwujud.

Zulfili mengingat betul bagaimana pelanggan pertamanya datang bukan karena iklan, melainkan karena rekomendasi dari mulut ke mulut. “Awalnya hanya tetangga dan teman dekat. Mereka percaya karena saya menjaga kualitas. Dari situ, perlahan nama Gusty Interior mulai dikenal,” ujarnya.

Kepercayaan itu menjadi modal utama yang lebih berharga daripada sekadar uang. Seiring waktu, produk gordyn miliknya mulai masuk ke rumah-rumah pejabat di Lampung. Mulai dari rumah wali kota, bupati, sekda, kepala dinas dan sebagainya. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri.

“Saya tidak pernah menyangka gordyn dari kios kecil bisa dipasang di rumah pejabat. Itu membuat saya semakin yakin bahwa usaha kecil bisa menembus batas,” kata Zulfili. Baginya, pencapaian itu bukan sekadar keuntungan, tetapi pengakuan atas kerja keras yang ia lakukan.

Zulfili juga menghadapi tantangan besar dalam hal modal dan pemasaran. Ia harus pintar mengatur keuangan agar usaha tetap berjalan. “Kadang saya harus menunda membeli stok baru karena modal terbatas. Tapi saya selalu berusaha menjaga kualitas, karena itu yang membuat pelanggan kembali,” katanya.

Filosofi sederhana ini membuat Gusty Interior tetap bertahan meski menghadapi keterbatasan. Transformasi digital kemudian membuka peluang baru. Meski awalnya ragu, Zulfili mulai mencoba memasarkan produknya melalui media sosial. “Saya belajar sedikit demi sedikit. Ternyata, dengan foto yang bagus dan komunikasi yang ramah, banyak orang tertarik,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPP APINDO Lampung, Ary Meizari Alfian, S.E., M.B.A., mengatakan perjalanan Zulfili sebagai bukti nyata bahwa UMKM Lampung memiliki daya tahan luar biasa. “UMKM seperti Gusty Interior membuktikan bahwa ukuran usaha bukanlah penghalang. Dengan kerja keras dan inovasi, kios kecil pun bisa menjadi besar di mata masyarakat,” ujarnya.

Ary menilai, kisah ini adalah cermin dari semangat wirausaha lokal yang tak pernah padam. Dia menekankan bahwa kisah seperti ini harus diangkat ke publik. Menurutnya, media memiliki peran penting dalam menyampaikan narasi optimisme. “Kisah Zulfili adalah cerita Lampung. Media harus menjadi saksi bagaimana UMKM lokal mampu bertahan dan berkembang,” ujarnya.

Baginya, kisah perjalanan usaha seperti Gusty Interior adalah simbol bahwa UMKM bisa menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Ary menilai, semangat seperti ini adalah modal utama UMKM Lampung. Ia menambahkan perjuangan usaha yang dikembangkan Zulfili bisa menjadi motivasi bagi pengusaha lain untuk tidak menyerah meski berawal dari keterbatasan.

“Kami di APINDO melihat bahwa UMKM yang mau beradaptasi akan bertahan. Gusty Interior adalah contoh nyata bagaimana kios kecil bisa menjadi inspirasi besar,” katanya. (**)

Loading