Bojonegoro — Suasana Pendopo Malowopati siang itu dipenuhi aroma malam panas. Di salah satu sudut, Tri Astutik dengan cekatan memperagakan teknik nyanting, mengubah pola bunga menjadi motif batik khas Bojonegoro.
Sebagai Ketua Kelompok Batik Sekar Rinambat, Tutik, sapaan akrabnya telah lama menekuni dunia batik. Ia merupakan binaan Pertamina EP Cepu (PEPC) dan ADEMOS sejak 2016, serta kini aktif di DPC IWAPI Bojonegoro.
Saat ditemui pada Lomba Desain Motif Batik Bunga, Tutik menyebut motif Agni Amerta dan Sewu Sendang sebagai karya terbarunya. Selain itu, ia juga memproduksi motif Mliwis Putih, Wonocolo, dan Waduk Pacal yang sarat nilai kearifan lokal.
Menurutnya, batik cap masih menjadi favorit pasar karena harganya terjangkau. Kisaran harga Rp150 ribu hingga Rp160 ribu menjadi pilihan utama konsumen.
“Untuk batik tulis, harganya tentu lebih tinggi karena prosesnya lebih rumit,” jelasnya.
Tutik berharap upaya membatik yang ia jalani dapat ikut melestarikan budaya sekaligus meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap produk lokal Bojonegoro.(agus)
![]()
