You are currently viewing Kabupaten Grobogan Bertekad Bebas Frambusia

Kabupaten Grobogan Bertekad Bebas Frambusia

  • Post author:
  • Post category:Grobogan

Grobogan, Nenemonews.com (Jawa Tengah) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan, melalui Dinas Kesehatan bertekad menuju Grobogan bebas Frambusia. Dengan mengadakan kegiatan Sertifikasi Eradikasi dibuka oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni, di Aula Candra Negara, Hotel Kyriad Grand Master Purwodadi, pada Selasa (17/10).

Dalam sambutannya, Sri Sumarni menjelaskan, penyakit frambusia atau patek atau koreng merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat.

Dirinya menjelaskan, penyakit frambusia ini hampir diabaikan dan perlu mendapat perhatian serius dalam upaya pencegahan maupun penanganannya.

Pihaknya mengaku akan terus memantau, dalam Pengendalian faktor resiko telah dilaksanakan kegiatan pemeriksaan pada anak SD, madrasah dan pesantren secara serempak.

Ia menceritakan, bahwa diawal dirinya menjabat menjadi bupati pada tahun 2016. Kabupaten Grobogan mendapat penghargaan nasional. Sebagai Kabupaten Pertama yang mendapat predikat Bebas Buang Air Besar Sembarangan. Lanjut, menurutnya, hal ini menunjukkan kualitas Perilaku Hidup Bersih dan Sehat masyarakat kita semakin baik.

“Pada tahun 2024, Pemerintah Indonesia menargetkan untuk 514 Kabupaten atau Kota memperoleh sertifikasi bebas frambusia,” tambah Bupati Grobogan.

Bupati Grobogan yang tahun depan akan purna jabatan tersebut, melanjutkan bahwa guna mencapai target itu, Kabupaten Grobogan bersama dengan 16 kabupaten atau kota di Provinsi Jawa Tengah, telah berupaya untuk memperoleh sertifikasi bebas frambusia.

“Kita semua berkomitmen, untuk mewujudkan Kabupaten Grobogan Bebas frambusia, karena itu semua harus bergerak bersama, gotong royong, bahu membahu, untuk melakukan berbagai upaya agar tujuan ini tercapai,” ujar Sri Sumarni.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, Slamet Widodo, menjelaskan penyakit frambusia ini lebih banyak menyerang anak-anak di bawah 15 tahun.

“Melalui 30 UPTD Puskesmas melakukan skrining pada 1.067 pelajar usia kurang dari 15 tahun pada januari hingga september 2023. Skrining dilakukan pada pelajar kelas III sampai VI SD/MI serta ponpes yang ada di Kabupaten Grobogan. Dari 1.067 anak, sebanyak 903 anak dilakukan rapid tes dengan pengambilan sediaan darah jari. Hasilnya semua anak negatif frambusia,” ujar kepala dinas kesehatan.

Menurut Slamet Widodo, penyakit frambusia ini bisa menular langsung antar manusia yang disebabkan oleh infeksi kronis bakteri Treponema Pertenue dan pada umumnya terlihat sebagai lesi atau luka pada kulit serta dapat menyebabkan cacat pada tulang.

“Bakteri frambusia berbentuk spiral dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop lapangan gelap menggunakan metode fluoresensi. Penularannya melalui lalat atau melalui kontak langsung dari cairan luka penderita ke orang yang mempunyai kulit yang luka atau tidak utuh,” tambahnya.

Laporan : Heru Budianto

Loading