Lampung Tengah, Nenemonews – Masih banyaknya stigma negatif masyarakat terhadap kemitraan, berikan kiat yang baik untuk para petani tebu Lampung. Sabtu(9/9/2023).
Perihal tersebut di paparkan Joko Purwanto bagaimana mengelola, standar perawatan kebun tebu yang berada di jalan Udara, Kampung Bandar Agung, Terusan Nunyai, Lampung Tengah.
Pria yang banyak makan asam garam mengenai bertani tebu, dimulai saat dia bekerja di Perusahaan perkebunan tebu hampir selama 31 Tahun lamanya, Berkat pengalamanya tersebut dipercaya oleh para petani untuk mengembangkan dan mengelola kelompok petani yang ada saat ini.
Menurutnya, bagian terpenting dalam mengelola kelompok petani tebu adalah untung dan sejahtera, tidak kalah penting adalah keterbukaan rincian biaya.
“Terpenting kejujuran dan keterbukaan dalam mengelola tebu, itu merupakan hal utama dalam mengelola kemitraan. Serta bagaimana para petani untuk bisa sejahtera “, Ujarnya.
Saat menuturkan, tanahnya saat itu masih kritis kurang subur kekurangan unsur hara, dengan semangat untuk dijadikan contoh sampai di uji tanahnya untuk mengecek Potensial of Hidrogen(PH) tanah.
” Awal- awal di suruh megelola areal, prediksi hanya 50 ton saja perhektar saat itu, sampai di uji lab tanah, kalau berhasil menjadi percontohan maka menjadi acuan kepercayaan untuk mengelola lebih luas lagi areal yang lain”, Kenangnya.
Saat tebu di penen ternyata menghasilkan keuntungan, setelah di potong biaya modal penanaman.
Secara umum kendala teknis tidak ada, relatif bisa di kelolanya, tantangan yang banyak terjadi di luar non teknis, selain itu syarat utama tanam tebu agar maksimal adalah lingkungan
” Syarat keberhasilan tanam tebu paling utama diantaranya adalah, dukungan lingkungan, dan akses jalan, sebisa mungkin jauh dari pemukiman namun jalan bagus untuk keluar masuk transportasi panen tebu”, Jelasnya.(Yudi)
![]()
