Bengkulu, nenemonews — Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, memberikan klarifikasi terkait potongan video wawancaranya yang mendadak viral di berbagai platform media sosial. Video yang beredar tersebut memicu narasi bahwa pemerintah daerah mengajak masyarakat menggelar salat tobat sebagai solusi mengatasi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Melalui unggahan di akun TikTok pribadinya, Helmi Hasan menjelaskan bahwa terdapat kekeliruan narasi serta pemotongan konteks wawancara yang dilakukan oleh sejumlah oknum dan media, sehingga menimbulkan pemahaman keliru di tengah publik.
Helmi mengungkapkan bahwa pernyataan tersebut bermula saat dirinya menggelar rapat bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setibanya di Bengkulu usai menyalurkan bantuan bencana ke NTT, Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Rapat tersebut membahas rencana penyelenggaraan doa akbar antarumat beragama pada 1 Oktober, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, sebagai ikhtiar spiritual dalam menghadapi rentetan bencana alam di Indonesia.
Namun, usai rapat tersebut, seorang wartawan mengajukan dua pertanyaan yang berbeda dalam satu kesempatan: mengenai penanganan bencana alam dan ketersediaan stok BBM di Bengkulu.
”Wah, saya pun melihatnya ketawa-tawa begitu kan. Saya bilang, kok jadi begini?
Kemarin saya rapat karena habis pulang dari NTT memberikan bantuan kepada masyarakat NTT, dan sebelumnya ke Aceh, ke Sumatera Utara, Sumatera Barat… dan kita melihat bagaimana Indonesia ini musibah bencana silih berganti.
Sehingga kemudian ketika saya pulang ke Bengkulu, saya kumpulkan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), saya kumpulkan MUI. Kita diskusi, apa yang kita bisa buat sehingga kemudian Indonesia ini tidak kemarau panjang, tidak terjadi bencana musibah dan segala macamnya.
Maka di forum itu diputuskan tanggal 1 Oktober berkaitan dengan Hari Kesaktian Pancasila, kita akan mengadakan acara doa akbar. Doa akbar tidak dilakukan di satu tempat, tapi di banyak tempat. Kita ajak seluruh umat beragama untuk sama-sama kita membuat ritual keyakinan masing-masing dengan doa masing-masing.
Kemudian setelah selesai itu, saya turun, kemudian ada wartawan. Dia bilang, ‘Pak, ini kan musibah banyak nih ya. Itu apa solusinya agar kita enggak musibah-musibah terus? Yang kedua, ini kan langka BBM, bagaimana Bengkulu nih, stok BBM bagaimana?’
Saya jawab, ‘Stok BBM untuk Bengkulu insyaallah enggak ada masalah, aman. Dan untuk bencana, kita barusan rapat dengan FKUB, kita akan adakan nanti doa bersama, doa akbar, dan juga di Islam akan ada salat tobat.’
Saya pikir enggak ada masalah statement ini. Tapi ternyata besok hingar-bingar: ‘BBM langka, Gubernur Bengkulu mengajak salat tobat.’
Wah, saya pun melihatnya ketawa-tawa begitu kan. Saya bilang, kok jadi begini? Saya lihat di beberapa media sosial, bahkan influencer nasional yang follower-nya juta-jutaan itu, itu membahas juga tanpa melihat pernyataan itu—wawancara itu secara utuh. Tapi dari judul media itu mengatakan, ‘BBM langka, Gubernur ajak masyarakatnya salat tobat.’
Saya pun yang bacanya malah ketawa-tawa juga sebenarnya, kok jadi begini? Ya begini lah suasana zaman sekarang.”
Pewarta : M Martanus
![]()
