Lukman Hakim *)
*) Wartawan Nenemonews.com
HARI Bhayangkara ke‑80, menjadi momentum refleksi perjalanan panjang Polri dalam mengabdi kepada bangsa. Merasakan derasnya arus informasi digital saat ini, Polisi Republik Indonesia (Polri) mengusung semangat Presisi–prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan. Sementara itu, jurnalis (wartawan) hadir sebagai mitra strategis, meretas informasi yang akurat dan merajut kepercayaan publik melalui narasi yang jujur. Konsep “Presisi” yang digagas Polri sejak 2021 bukan sekadar jargon, melainkan paradigma baru dalam pelayanan kepada publik.
Menilik survei Litbang Kompas April 2026 mencatat tingkat kepercayaan publik terhadap Polri mencapai 82,4 persen, angka itu naik dari 76,2 persen pada 2025. Angka ini menandakan adanya perbaikan signifikan, terutama dalam pelayanan lalu lintas dan penanganan kasus kriminal. Namun, tantangan masih ada karena di daerah pelosok masyarakat masih mengeluhkan keterbatasan akses layanan dari Polri.
Minggu 10 Mei 2026 malam yang muali meninggi, di Lampung Selatan, Kapolsek Natar bersama jajarannya berjuang memfasilitasi mediasi warga di Desa Merakbatin, Kecamatan Natar. Upaya humanis yang berlangsung pukul 19.30 WIB ini dipimpin AKP Setio Budi Howo dan dihadiri tokoh masyarakat serta aparat desa. Perselisihan warga yang terjadi diselesaikan dengan musyawarah dan kekeluargaan, menunjukkan wajah humanis Polri yang mengedepankan dialog untuk menjaga keharmonisan masyarakat.
Menilik peristiwa yang terjadi 18 Maret 2026, Satlantas Polresta Tangerang menyiagakan 1.123 personel gabungan untuk mengamankan arus mudik Lebaran. Hujan deras sempat melanda beberapa titik, tetapi polisi lalu lintas tetap bertugas di lapangan, mengatur arus kendaraan agar tetap lancar. Dedikasi ini menjadi bagian dari Operasi Ketupat 2026, yang kemudian diganjar penghargaan dari Menteri Perhubungan pada 26 Juni 2026. Gedung NTMC Korlantas Polri, Jakarta menjadi saksi betapa perjuangan abdi negara pelindung rakyat itu tetap mendapatkan reward dari pemerintah.
Program Polisi RW yang diluncurkan di Jakarta sejak pertengahan 2025 juga terbukti efektif dalam mendekatkan diri apparat kepolisian dengan warga. Di beberapa RW, patroli malam rutin bersama warga berhasil menurunkan angka kriminalitas lingkungan hingga 12 persen. Program ini memperlihatkan bagaimana Polri merajut kepercayaan dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam menjaga keamanan.
Era digital membawa peluang sekaligus tantangan. Informasi beredar begitu cepat, namun tidak semua akurat. Hoaks tentang Polri kerap muncul di media sosial, memicu ketidakpercayaan. Dalam kasus penangkapan terduga teroris di Jawa Barat pada awal 2026, beredar kabar simpang siur. Wartawan investigasi turun ke lapangan, mengonfirmasi langsung ke Polri, lalu menulis laporan yang akurat. Publik pun mendapat informasi yang benar, kepercayaan tetap terjaga.
Pendekatan Humanis
Kepercayaan publik tidak lahir dari retorika, melainkan dari data dan fakta. Sepanjang 2025, Polri menangani kurang lebih 1,2 juta pengaduan masyarakat dengan tingkat penyelesaian 78 persen. Unit lalu lintas digital mencatat 3,5 juta transaksi tilang elektronik, menunjukkan transparansi dalam penegakan hukum. Data ini memperlihatkan transformasi Polri menuju pelayanan yang lebih modern dan akuntabel.
Kepercayaan publik juga dibangun lewat sentuhan humanisme. Kisah polisi yang membantu warga korban banjir di Serang, Banten, pada 8 Maret 2026, mengantar ibu hamil ke rumah sakit, dan mengajar anak‑anak di desa terpencil adalah kisah yang merajut kepercayaan. Cerita‑cerita ini menjadi sejarah kecil tentang pengabdian yang tidak tercatat di dokumen resmi, tetapi hidup di hati masyarakat, terutama masyarakat yang langsung merasakannya.
Delapan dekade perjalanan Polri adalah perjalanan panjang penuh dinamika. Dari masa revolusi hingga era digital, Polri selalu dituntut beradaptasi. Jurnalis pun demikian: dari pena ke layar, dari koran ke portal berita. Hari Bhayangkara ke‑80 menjadi momentum sinergi. Polri meretas presisi, wartawan merajut kepercayaan. Keduanya berpadu bekerja untuk tujuan yang sama: membangun Indonesia yang aman, adil, dan dipercaya rakyatnya. “Meretas Presisi, Merajut Kepercayaan” bukan sekadar slogan. Hal ini adalah panggilan moral. Polri dituntut bekerja tepat sasaran, wartawan dituntut menulis dengan nurani. Sinergi keduanya akan melahirkan kepercayaan publik yang kokoh–fondasi utama bagi keamanan dan demokrasi di Indonesia.
Strategi Jitu Polri Mengembalikan Cinta Rakyat
Kepercayaan publik terhadap Polri memang meningkat, namun tantangan tetap ada. Oleh karena itu, strategi jitu diperlukan agar rakyat semakin yakin bahwa polisi adalah sahabat mereka. Mengingat, kepercayaan publik adalah fondasi utama bagi keamanan dan demokrasi. Rakyat pada dasarnya mencintai polisi karena hadir sebagai pelindung dan pengayom.
Namun, cinta itu harus dijaga dengan kerja nyata. Transparansi digital menjadi langkah pertama. Sistem tilang elektronik, laporan pengaduan online, hingga dashboard kinerja publik harus terus dikembangkan. Dengan keterbukaan data, masyarakat merasa dilibatkan dan yakin bahwa Polri bekerja dengan akuntabel.
Pendekatan humanis juga menjadi kunci. Kepercayaan tidak lahir dari retorika, melainkan dari sentuhan kemanusiaan. Polisi yang membantu korban banjir, mengantar ibu hamil ke rumah sakit, atau mengajar anak-anak di pelosok adalah wajah humanis Polri yang dicintai rakyat. Ada juga cerita di berbagai platform media sosial “Polisi Baik” seperti Ipda Purnomo (Mas Pur) atau Aipda Monang Parlindungan Ambarita, semuanya menjadi cerita-cerita kecil yang membangun citra besar: polisi hadir bukan hanya sebagai aparat, tetapi sebagai sahabat masyarakat.
Selain itu, peningkatan kompetensi personel harus menjadi prioritas. Pelatihan berkelanjutan dalam bidang teknologi, komunikasi publik, dan etika pelayanan akan melahirkan polisi yang profesional, ramah, dan cerdas digital. Polisi yang mampu menghadapi kejahatan modern seperti siber dan terorisme akan semakin dihormati.
Kemitraan dengan media juga tidak kalah penting. Jurnalis adalah mitra strategis dalam merajut kepercayaan. Polri perlu membangun hubungan sehat dengan media, menyediakan informasi akurat, dan melibatkan wartawan dalam edukasi publik. Dengan sinergi ini, hoaks dapat ditepis, dan narasi positif tentang Polri lebih mudah sampai ke masyarakat.
Program Polisi RW dan Polmas terbukti efektif menurunkan kriminalitas lingkungan. Polri harus memperluas program ini ke seluruh daerah, sehingga warga merasa aman karena polisi hadir di lingkungan mereka. Kedekatan ini menumbuhkan rasa memiliki, memperkuat cinta rakyat kepada polisi.
Respons cepat dan empati juga menjadi strategi jitu. Setiap pengaduan masyarakat harus ditangani dengan sigap dan penuh kepedulian. Polisi yang cepat merespons akan mendapat apresiasi tinggi, sementara yang lambat akan menurunkan kepercayaan.
Promosi edukasi publik perlu digencarkan. Polri harus aktif memberikan literasi hukum, keselamatan, dan digital. Edukasi ini membuat masyarakat lebih sadar hukum dan merasa polisi hadir sebagai sahabat, bukan sekadar aparat penegak hukum.
Integritas internal adalah fondasi. Kepercayaan publik akan runtuh jika ada kasus pelanggaran etik. Oleh karena itu, pengawasan internal harus diperkuat. Polisi yang melanggar harus ditindak tegas, sementara yang berprestasi diberi penghargaan. Integritas adalah modal utama cinta rakyat kepada Polri.
Narasi positif dan storytelling harus terus diangkat. Cerita inspiratif tentang pengabdian polisi menjadi penyeimbang dari berita negatif yang sering muncul di media sosial. Tujuannya, agar jangan Pocil alias “Polisi Cilik” yang hanya menjadi masyarakat cinta polisi, tapi bagaimana mayarakat benar-benar dekat an saying dengan apparat Polri. Dengan strategi jitu, Polri tidak hanya meretas presisi, tetapi juga merajut kepercayaan. Karena pada dasarnya, rakyat memang cinta polisi, dan polisi harus menjaga cinta itu dengan pengabdian yang tulus. Seperti yang dilakukan mas Pur dan Ambarita. Bravo Polri Indonesia. Semoga…(**)
![]()
