You are currently viewing Gedung Megah, Kualitas Pendidikan Masih  Rendah

Gedung Megah, Kualitas Pendidikan Masih Rendah

Bojonegoro, Nenemonews (Jatim) – Ironis rasanya melihat wajah pendidikan di kabupaten Bojonegoro. Di satu sisi, gedung-gedung dan pagar sekolah berdiri megah, juga fasilitas fisik lainya tampak gagah untuk dipamerkan.

Tetapi di sisi lain, kualitas pendidikan justru masih terseok-seok. Gedungnya tampak maju, namun mutu siswanya berjalan di tempat.

Fenomena ini bukan sekadar soal gedung, melainkan soal paradigma. Pemerintah daerah tampak lebih sibuk ‘mempercantik wajah’ sekolah ketimbang mengisi isinya.

Seolah-olah ukuran kemajuan pendidikan hanya diukur dari kokohnya tembok, bukan dari cerdasnya isi kepala. Padahal, pendidikan bukanlah proyek bangunan, melainkan proyek peradaban untuk masa depan.

Banyak guru di Bojonegoro yang masih terbentur kompetensi dan kurangnya peningkatan kapasitas. Kurikulum kadang hanya dijalankan sekadar formalitas, tanpa mampu membangkitkan semangat berpikir kritis siswa.

Di desa-desa, banyak murid yang masih kekurangan akses literasi, sementara perpustakaan hanya jadi ruangan sunyi bahkan jadi monumen kosong berdebu tanpa isi.

Ironinya, publik kerap terkecoh. Gedung baru dijadikan simbol keberhasilan, padahal itu hanya ilusi. Pendidikan sejatinya diukur dari sejauh mana anak-anak Bojonegoro mampu berpikir, berinovasi, dan bersaing di kancah yang lebih luas, bukan sekadar duduk di kursi.

Pendidikan harus dibebaskan dari logika proyek. Lebih penting menumbuhkan budaya belajar ketimbang membangun pagar, perpustakaan dan gedung-gedung sekolah setinggi langit.

Guru harus diberdayakan, metode belajar diperbaharui, akses digital dipermudah, dan lingkungan belajar diperluas seluas-luasnya.

Jika tidak, maka Bojonegoro hanya akan dikenal sebagai daerah dengan gedung-gedung sekolah mewah, tetapi lulusannya tak berdaya. Megah di luar, rapuh di dalam. Sebuah ironi yang tak boleh dibiarkan berlarut. (Agus).

Loading