Nganjuk, Nenemonews.com –
Barangkali tak banyak lagi masyarakat Jawa yang melaksanakan tradisi Tedak Siten saat ini.Namun di Nganjuk tradisi ini masih di lestarikan.
Seperti yang dilakukan warga Dsn.Sumengko RT.003 RW 001 Kec.Sukomoro Kab.Nganjuk. Adalah Ananda Ammena Almahyra Putri Fernandy Syah (7 bulan).Anak ke dua dari pasangan Mas Difky Zakaria Nur Fernandy Syah dan Mbak Gita Rica Sasmi mengaku dia memang melaksanakan acara tersebut mengundang puluhan teman dan sanak keluarga serta para tetangga.
Acara Tedak Siten di laksanakan pada pukul 14.00 WIB sampai selesai.Tujuan acara Tedak Siten atau sering disebut Piton-piton ini agar anak-anak di sekitar dapat mengenal tradisi atau budaya tempo dulu.
Dalam acara Piton-piton anak yang di pitoni dimasukan didalam kurungan dan di dalam kurungan terdapat buku,pensil,uang serta jajan.Dengan tujuan anak tersebut biar memilih sesuai yang diinginkan.
Selain sanak saudara acara tersebut dihadiri juga para sesepuh desa setempat yang ikut mendoakan hingga di akhir acara selesai.
Acara yang terakhir akhir yaitu acara sebar uang receh yang diperebutkan oleh anak-anak bahkan orang dewasa.
Acara Piton-piton berjalan aman dan kondusif, Mas Difky mengucapkan banyak terima kasih kepada para undangan yang sudah hadir serta tetangga yang turut meramaikan acara Tedak Siten.Mas Difky juga menuturkan acara ini lebih meriah daripada perayaan Tedak Siten anak yang pertama.” Saya ucapkan terimakasih buat para undangan yang sudah hadir serta tetangga yang turut meramaikan acara Piton-piton putri saya” ujarnya.
“Acara ini sangat meriah dan ramai daripada acara Tedak Siten anak saya yang pertama” tambah Mas Difky.
Acara Tedak Siten ini adalah adat turun temurun dari nenek moyangnya.Dalam acara tersebut banyak sekali hadiahnya dan jumlah uang yang disebar sekitar Rp.40.000.000,-.
Tedak Siten juga di kenal sebagai upacara turun tanah.”Tedak” berarti turun dan “Siten” berasal dari kata “Siti” yang berarti tanah.Proses ini juga bertujuan supaya anak tumbuh menjadi anak mandiri.
(Lik)
![]()
