You are currently viewing Menelisik Pergeseran Perilaku Konsumen Pasca Pandemi Covid 19 di Kota Kisaran

Menelisik Pergeseran Perilaku Konsumen Pasca Pandemi Covid 19 di Kota Kisaran

  • Post author:
  • Post category:DPRD

By, Ade Amalia, Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen, Universitas Pembangunan Panca Budi

Pandemi Covid-19 memang sangat mempengaruhi berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dalam hal perilaku konsumen. Hampir dua tahun Pandemi Covid-19 melanda Indonesia, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama terinfeksi virus corona pada 2 Maret 2020. Hampir dua tahun juga, virus ini memaksa kita untuk mengubah pola hidup, pola bersosialisasi, termasuk juga pola belanja kita. Ketika awal mula terjadinya pandemi, banyak masyarakat melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk melindungi diri dari paparan covid-19. Dengan terjadinya kondisi tersebut, kebanyakan masyarakat sering melakukan kegiatan penjualan maupun pembelian secara online dan sangat sedikit sekali kegiatan tersebut dilakukan secara offline. Saat itu, masyarakat lebih memilih untuk mengurangi mobilitas sebagai upaya untuk menghindari tertular virus.

Hal tersebut tentu saja berdampak pada pola belanja konsumen hampir di seluruh tanah air, termasuk Kota Kisaran. Sebagai ibukota dari Kabupaten Asahan, masyarakat di Kota Kisaran juga cenderung menghindari proses jual beli dengan cara konvensional yaitu pembeli datang ke penjual dan melakukan transaksi di toko. Perilaku belanja ini digantikan dengan pola baru, konsumen mengandalkan teknologi untuk berbelanja secara online.

Merujuk kepada perubahan perilaku konsumen, kita dapat melihat beberapa kondisi di lingkungan sekitar, setelah sekian lama terjadinya pandemi ini. Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa pemerintah secara resmi mencabut status pandemi Covid-19 di Indonesia, dan menyebut bahwa mulai 21 Juni 2023, Indonesia dinyatakan telah beralih dari masa pandemi menjadi endemi, akhirnya lambat laun kondisi sudah mulai membaik dengan ditandai penyebaran virus yang sudah mulai terkendali. Selain itu, sudah banyaknya masyarakat yang sudah mulai melakukan aktivitas di luar rumah seperti berbelanja di pasar, digelar kembali berbagai acara, dan lain sebagainya. Hal tersebut juga mengindikasikan bahwa kondisi pandemi sudah mulai membaik. Dengan sudah membaiknya kondisi sekarang ini maka perilaku dari para konsumen juga akan mengalami perubahan. Sebagai contoh perubahan perilaku konsumen di sekitar lingkungan kita seperti, sudah banyak pusat perbelanjaan yang ramai dikunjungi oleh para pelanggan, selain itu kegiatan acara keramaian juga sudah mulai diadakan kembali dan dipenuhi oleh para pengunjung yang datang. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh suatu peristiwa maupun kejadian tertentu yang melibatkan banyak orang.

Namun, tak dapat dipungkiri, pengaruh perubahan perilaku konsumen karena pandemi Covid- 19 masih terasa. Pada intinya, pandemi Covid-19 telah memberikan dampak besar terhadap perilaku konsumen. Konsumen telah mengalami evolusi, baik dari segi pola konsumsi, strategi pemasaran, dan sikap mereka terhadap pembelian. Perubahan ini memaksa bisnis dan pelaku bisnis untuk menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat. Paling tidak, ada tiga macam pergeseran perilaku konsumen yang tetap konsisten pasca pandemi Covid-19 khususnya di Kota Kisaran.

Pertama, jual beli online tetap menjadi primadona. Tidak dapat dipungkiri bahwa di masa pandemi Covid 19 segala hal dapat dilakukan secara online. Pandemi Covid-19 membuat masyarakat lebih senang berbelanja secara online. Masyarakat yang dulunya hanya membeli barang tertentu melalui online, kini berubah dan membeli hampir seluruh kebutuhan hidup melalui online. Kemunculan berbagai macam platform juga semakin memudahkan masyarakat. Pembelian dengan mudah dilakukan hanya dengan sekali klik. Berbagai e-commerce juga semakin mencuri minat masyarakat dengan menawarkan keuntungan seperti diskon, gratis ongkir, serta cashback yang membuat masyarakat semakin rajin belanja melalui virtual.

Meskipun pemesanan barang yang dilakukan pada penyedia atau penjual barang terkadang membutuhkan waktu lebih dari 24 jam untuk barang sampai di tangan konsumen, namun masih banyak masyarakat yang tetap menggunakan pola belanja tersebut. Selain karena barang yang diinginkan tidak tersedia di kota tempat mereka tinggal, ketertarikan masyarakat juga cenderung karena harga barang melalui virtual lebih murah dan bervariasi bila dibandingkan dengan barang yang ada di seputaran lingkungan mereka.

Kedua, Konsumen Online Kini Bukan Hanya Generasi Millennial. Pada awalnya, konsumen online didominasi oleh generasi-generasi millennial. Industri yang konsumennya memang untuk generasi millennial sudah sejak lama mengandalkan e-commerce sebagai sarana transaksi jual-beli. Namun bagaimana dengan perusahaan yang menyasar pada konsumen yang lebih tua?. Pasca pandemi, konsumen online tidak hanya didominasi oleh generasi millennial. Generasi boomer, satu tingkat diatas generasi X juga telah beranjak menggunakan media online sebagai sarana jual beli. Hal tersebut menyebabkan pelaku usaha harus menyesuaikan diri dengan pola yang ada.

Ketiga, pola belanja lewat aplikasi ojek online. Pola belanja lewat aplikasi ini memungkinkan konsumen mendapatkan barang lebih cepat, karena pemesanan dan pengiriman dilakukan di saat yang kurang lebih bersamaan. Pembelanjaan lewat aplikasi ini meningkat tajam selama masa pandemi, terutama untuk pembelanjaan kuliner.

Platform ini masih menjadi salah satu favorit konsumen dalam berbelanja kuliner walaupun setelah melewati masa pandemi. Namun demikian, untuk pembelanjaan groseri atapun bahan masakan mentah seperti misal sayuran dan buah-buahan memang masih terbatas. Kendala yang dihadapi oleh pembeli pada platform ini adalah harga barang yang kadang sedikit lebih mahal dan juga biaya pengiriman. Permasalahan lain adalah kurangnya ketersediaan “abang ojek” di beberapa area tertentu. 

Keempat, penggunaan media sosial dalam proses jual beli seperti misalnya Whatsapps, Facebook atau aplikasi sejenis lainnya. Penjual men-display barang dagangan di media sosial mereka, kemudian pembeli bisa melakukan pemesanan lewat aplikasi chatting. Setelah transaksi disepakati, maka penjual akan menggunakan fasilitas ekspedisi untuk melakukan pengiriman. Di Kota Kisaran sendiri, beberapa pelaku usaha ramai menjajakan dagangannya di media sosial. Salah satunya, sebut saja GKK (Grup Kuliner Kisaran). Grup yang berbasis di media sosial Facebook tersebut secara aktif konsisten digandrungi masyarakat yang hendak berbelanja kuliner. Tak sekedar itu, masyarakat juga dapat berbelanja melalui media sosial berbasis live show. Berbagai macam kebutuhan baik primer hingga tersier dijajakan dan dapat dilihat secara real melalui media sosial.

Namun, bagaimana dengan para pedagang kecil seperti misalnya toko kelontong di tengah kampung, penjual bahan makanan mentah di perkampungan yg mengandalkan masyarakat sekitar untuk membeli produknya dalam basis harian? Bagaimana juga dengan penjual jajanan pasar yang biasanya membuka lapak sejak jam 6 pagi, dan menyiapkan jajanan untuk sarapan maupun untuk bekal sekolah anak-anak? Apakah pola belanja konvensional sebelum pandemi bisa diharapkan kembali? Ataukah, konsumen menghendaki adapatasi pada pola belanja mereka?

Menurut saya, para pedagang kecil perlu berpikir secara kreatif untuk menyelamatkan usahanya terutama pasca pandemi. Tanpa berinovasi, bisnis mereka akan mudah dikalahkan oleh retailer skala besar. Salah satu terobosan yang perlu diambil oleh para pedangan kecil adalah beradaptasi sesuai perubahan perilaku konsumen dan meminimalkan kendala-kendala yang dihadapi konsumen terutama pada platform yang saat ini sedang naik daun. Walaupun, tak dapat dipungkiri, hingga saat ini masyarakat Kota Kisaran juga masih menggunakan jasa mereka dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari – hari. Namun, pola belanja jemput bola bisa menjadi salah satu opsi cerdas bagi pedagang kecil, terutama yang mengandalkan konsumen sekitar sebagai target pasar. Pembeli diberikan peluang untuk memesan produk, lewat aplikasi chatting. Untuk kemudian, penjual menyiapkan barang yang dipesan. Di waktu yang ditentukan pembeli bisa mengambil tanpa harus berlama-lama di toko.

Strategi ini terlihat seperti strategi yang sederhana, dan seakan kuno. Tapi coba kita lihat implikasi, misalnya pada pedagang bahan makanan basah  (sayur, daging dan sebagainya). Pembeli melakukan pemesanan H-1, untuk kemudian penjual akan berbelanja di pasar sesuai pesanan. Dengan demikian, waktu yang dibutuhkan oleh pembeli untuk berbelanja menjadi pendek. Ketersediaan barang yang diinginkan akan terjamin, karena sudah melakukan pemesanan. Pembeli tidak harus menanggung biaya pengiriman, karena mereka mengambil barang dagangan sendiri. Di sisi lainnya, penjual juga diuntungkan, karena kemungkinan barang dagangan tidak laku menjadi lebih kecil, karena sebagian besar adalah barang yang sudah dipesan.

Hal yang sama bisa juga diterapkan pada toko kelontong di perkampungan, dan juga usaha penjualan produk-produk lainnya. Strategi sederhana ini bisa mengakomodasi keinginan konsumen untuk berbelanja secara cepat, pasti, nyaman dan hemat, dimana tidak perlu ada biaya pengiriman. Dengan strategi sederhana ini pula, pedagang kecil tidak perlu berinvestasi teknologi yang mahal. Cukuplah mereka mempunyai smartphone dan ebanking.
Usaha kecil perlu kita support karena ini bisa menjadi kekuatan perekonomian bangsa. Ingat, keberlangsungan bisnis tidak selalu mensyaratkan modal besar, cukuplah dengan berpikir kreatif dan cerdas. Dengan demikian, pandemi kemaren bukan sekedar bencana nasional yang meluluhlantakkkan kehidupan perekonomian, namun lebih dari itu, pandemi mendidik kita untuk lebih kreatif memanfaatkan peluang menjadi keuntungan.

Loading