Bojonegoro, Nenemonews (Jatim) – Makin banyak sekolah dasar negeri di Bojonegoro sepi murid. Bahkan, ada kompleks-kompleks yang kosong tak terpakai. Ini alarm keras bagi pemda setempat.
Bangunan gedung yang kosong seolah menjadi monumen bisu dari buruknya perencanaan dan ketidakpekaan pemda terhadap dinamika sosial dan kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan fakta lapangan, di wilayah kecamatan Kanor ada 3 kompleks SD Negeri yang kosong tanpa penghuni. Yakin, SD Negeri Semambung, Kedungprimpen dan Piyak. Mungkin, di wilayah kecamatan lainnya di wilayah Bojonegoro masih banyak lagi.
Bahkan, ada yang hanya memiliki beberapa siswa di satu angkatan. Ada juga beberapa sekolah terpaksa dimerger karena jumlah peserta didik tak lagi mencukupi untuk operasional.
Ironisnya, di saat sekolah dasar negeri kehilangan murid, sekolah di bawah naungan kemenag justru mengalami lonjakan. Ini mengindikasikan pergeseran kepercayaan masyarakat.
Faktor lain adalah kebijakan zonasi yang seharusnya menjamin pemerataan pendidikan, namun dalam praktiknya justru memperparah ketimpangan mutu.
Bangunan Sekolah Kosong, Tapi Tidak Ada Aksi Nyata.
Yang lebih mengkhawatirkan banyak bangunan gedung sekolah dasar yang kosong di Bojonegoro tidak dialihfungsikan secara produktif. Dan tanpa adanya program revitalisasi atau reposisi fungsi.
Pemda Bojonegoro seolah tutup mata terhadap kerugian fisik, resensi sosial dan moral. Tidak ada terobosan untuk mengubah bangunan gedung kosong menjadi pusat kegiatan masyarakat, ruang belajar nonformal, atau pusat keterampilan?
Kenapa tidak ada langkah konkret untuk mengembalikan kepercayaan warga masyarakat terhadap sekolah dasar negeri?
Saatnya Pemda Bojonegoro Berbenah, Bukan Sibuk Berwacana.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemda setempat telah gagal menjalankan fungsi utamanya dalam menjamin hak pendidikan dasar yang layak dan merata.
Terlalu banyak retorika soal “revolusi pendidikan”, “transformasi digital”, atau “kurikulum merdeka”, tapi gedung sekolah dasar negeri justru banyak yang kosong dan terabaikan.
Jika fenomena ini terus dibiarkan, bukan hanya infrastruktur pendidikan yang hancur, tetapi juga kepercayaan rakyat terhadap sistem tata kelola pendidikan.
Pemda Bojonegoro harus segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas tenaga pendidik. Sebab, kosongnya bangunan gedung sekolah dasar negeri simbol gagalnya sistem pendidikan.
Penulis Korwil Jatim.
