You are currently viewing Kekuasaan  Membusuk dari Dalam

Kekuasaan Membusuk dari Dalam

Bojonegoro, Nenemo (Jatim) – Masyarakat terlalu sering disuguhi drama politik di panggung kekuasaan.

Salah satu episode yang paling menjijikkan, keretakan pimpinan dan wakilnya. Semestinya jadi satu tubuh dalam menjalankan amanat rakyat.

Ironisnya, mereka justru menjelma jadi dua kutub kekuasaan yang saling serang dan sabotase zona wilayah.

Awalnya manis bersalaman saat deklarasi, tersenyum saat kampanye, berjanji setia demi rakyat. Rakyat yang mana?

Tapi begitu duduk di kursi empuk kekuasaan, topeng pun terlepas. Yang muncul bukan lagi sinergi, melainkan saling sikut dan sikat. Aji mumpung!!!.

Bukannya membangun daerah, mereka justru sibuk membangun kubu masing-masing. Itung-itung balas budi!!.

Keretakan ini bukan sekadar ‘perbedaan pendapat’. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah masyarakat.

Ketika dua pemimpin tak lagi sejalan, maka yang rusak bukan hanya komunikasi, tapi juga fondasi pemerintahan. Bobrok di dalamnya.

Proyek terbengkalai, kebijakan saling tumpang tindih, dan pelayanan terhadap warga jadi taruhannya.

Parahnya lagi, konflik ini sering kali dipertontonkan membuat bingung harus patuh pada siapa. Jadi panggung Drakor tanpa sutradara.

Sementara itu, rakyat yang mestinya menjadi pusat perhatian jadi terpinggirkan. Dijadikan penonton tanpa suara.

Warga berani menyebut ini sebagai krisis kepemimpinan yang tak lagi mampu bekerja bersama. Maka, keduanya telah gagal secara moral dan etika.

Mereka bukan pemimpin, melainkan predator politisi yang rakus panggung, haus kuasa, dan miskin tanggung jawab.

Penulis Korwil Jatim.