You are currently viewing Banjir Kembali Kepung 23 Kampung Kota Purwodadi

Banjir Kembali Kepung 23 Kampung Kota Purwodadi

  • Post author:
  • Post category:Grobogan

Grobogan, Nenemonews.com (Jawa Tengah) – Banjir kembali melanda hampir sebagian besar di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah sejak rabu hingga kamis (14/3), bancana alam ini menyusul hujan dengan itensitas sedang hingga tinggi (deras) yang mengguyur sejak kemaren hingga hari ini.

Banjir di Kecamatan Purwodadi paling banyak terdampak adalah di Kelurahan purwodadi. Data masuk dan dilaporkan oleh Lurah Purwodadi terjadi di 23 titik dengan rata-rata ketinggian debit air berkisar 30-60 cm yaitu :

1.Kp. Jajar 311 KK (RW 01)
2.Kp. Kemasan 90 KK (RW 02)
3.Kp. Jagalan Utara 230 KK (RW 03)
4.Kp. Purwodadi 3 19 KK (RW04)
5.Kp. Jagalan Selatan 100 KK (RW 05)
6.Kp. Jenglong Timur (RW06)
7.Kp. Jenglong Barat 250 KK (RW 07)
8.Kp. Kauman (RW 08)
9.Kp. Brambangan (RW 09)
10.Kp. Polsek (RW 10)
11.Kp. Ngabean (RW 11)
12.Kp. Inspektorat (RW 12)
13.Kp. Cempaka (RW 13)
14.Kp. Kebondalem 46 KK (RW 14)
15.Kp. Jetis Tanggul (RW 15)
16.Kp. Jetis Barat 243 KK (RW 16)
17.Kp. Jetis Selatan 193 KK (RW 17)
18.Kp. Simpang Lima Selatan (RW 18)
19.Kp. Simpang Lima Utara (RW 19)
20.Kp. Perumda (RW 20)
21.Kp. Surya Laksana ke Timur / Banaran selatan 72 KK (RW 21)
22.Kp. Banaran 338 KK (RW 22)
23.Kp. Petra Griya (RW 23)
Total masyarakat terdampak bencana banjir sebanyak 1892 KK tersebar di seluruh Kelurahan Purwodadi Kota.

Lurah Purwodadi, Agus menyampaikan, pihaknya sudah menyerahkan dan melaporkan data ke Dinas terkait yakni BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan Dinas Sosial Grobogan untuk segera menyalurkan bantuan ke masyarakat terdampak banjir di wilayahnya.

” pihaknya mengatakan, akan disediakan 10 dapur umum yang tersebar di kampung terdampak bencana banjir untuk membantu memudahkan masyarakat mendapatkan komsusi makanan serta minuman secara gratis, dengan catatan jika banjir ini tak kunjung surut,” ungkapnya.

Dia juga berharap kepada Pemkab Grobogan untuk kedepan agar banjir tidak menjadi rutinitas tahunan, dengan cara melakukan normalisasi sungai Lusi, mengupayakan penghijauan daerah hulu sungai. Penghijauan di daerah sungai salah satu cara meminimalisir terjadinya erosi yang merupakan asal muasal pendangkalan sungai. ” Diwaktu musim kemarau sungai Lusi terlihat mengalami pendangkalan dan bibir sugai longsor, ” ujar Agus.

Agus menghimbau, kepada semua masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati terutama saat meninggalkan barang-barang berharga miliknya saat mengungsi. Bukan itu saja dengan adanya fenomena bencana banjir biasanya anak-anak justru memanfaatkan untuk bermain dan berenang, hal tersebut pasti sangat membahayakan. Untuk itu para orang tua diminta bisa mengawasi anak-anaknya lebih teliti lagi.

Laporan : Heru Budianto

Loading