Nenemenews.com

Informatif dan Berimbang

Andi Desfiandi : 1 Rumah 1 Jumantik

Andi Desfiandi : 1 Rumah 1 Jumantik

BANDARLAMPUNG – Nenemonews (Lampung) – Jika musim hujan saat wabah demam berdarah dengue (DBD) juga musim, ingatan kita segera tertuju pada sosok ini. Siapa dia? Nyamuk? Tentu saja bukan.

Juru Pemantau Jentik (Jumantik), nama yang dilekatkan pada warga masyarakat yang mau sukarela jadi petugas khusus yang bertanggung jawab memantau keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti sp. dan nyamuk dan Aedes albopictus, “juru celaka” atau vektor DBD di lingkungannya.

Tugasnya mulia. Bertanggung jawab mendorong warga rutin melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Sebuah upaya gerakan saban hari mengurangi jumlah nyamuk dengan memberantas jentiknya.

Demikian petikan wawancara Dr Andi Desfiandi MA, dijumpai redaksi di sela kegiatan bakti sosial fogging focus (pengasapan) nyamuk DBD yang digelar Bravo 5 Lampung, di Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang, dan Kangkung, Telukbetung Selatan, Bandarlampung, akhir Januari lalu.

Aksi Bravo 5 di beberapa RT kedua tempat bersama Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat (Almisbat) Lampung, sejawatnya sesama relawan pemenangan capres-cawapres 01 Jokowi-Ma’ruf Amin ini disambut antusias warga.

Sadar fogging bukan solusi utama sebab cuma membunuh sebagian nyamuk dewasa, bukan jentiknya, tak mengurangi semangat Bravo 5 dkk menunaikan aksi simpatiknya walau hari itu diiringi gerimis merintik.

Didampingi sekretaris Bravo 5 Lampung M Endi Saputra Hasibuan SE MM MH, mengenakan masker, di tengah deru mesin fogging memuntahkan asap, di mulut gang perkampungan warga Kampung Pidada II, Andi lanjutkan wawancara.

Menurut dia, upaya maksimal negara tahun ke tahun, mengedukasi rakyat pentingnya mencegah wabah epidemik DBD melalui gerakan serentak 3M Plus –menguras, menutup, mengubur, plus mendaur ulang– tetap dirasa takkan pernah bisa disebut ‘super-duper’ efektif selama budaya bersih dan sehat jauh dari kamus hidup kita.

“Kebersihan sebagian dari iman. Perilaku hidup bersih dan sehat, harus kita mulai dari rumah. Nah, datangnya musim hujan ini nikmatullah, wajib disyukuri. Seperti juga nikmat sehat, wajib disyukuri juga kan? Kata orang bijak, sehat itu tidak bisa diwakilkan,” ujar Andi, doktor ekonomi jebolan Unpad ini, filosofis.

“Kalau bicara kejadian wabah DBD di Indonesia ini kan udah jelas siklus tahunannya. Akan cenderung naik pertengahan musim hujan sekitar Januari, akan cenderung turun Februari hingga penghujung tahun,” terangnya.

Dari itu, tambahnya, upaya sistematis pengendalian baik pencegahan juga pemberantasan harus jadi kesadaran bersama. Contoh, kita galakkan lagi upaya mendaur ulang barang bekas agar tak jadi breading place (sarang berkembang biak) jentik nyamuk DBD.

Caranya? “Pertama, terus sosialisasi. Gerakkan anggota keluarga agar aktif lakukan PSN 3M-Plus rutin 1 minggu 1 kali,” ucap mantan rektor IBI Darmajaya –kini IIB Darmajaya dua periode ini.

“Kedua, memeriksa dan memberantas, jika ditemukan, tempat perindukan nyamuk di lingkungan rumah. Harus. Periksa rutin wadah, bak mandi misalnya, dan tanaman yang bisa nampung air. Di rumah ada dispenser? Atau hobi pelihara burung? Nah itu, tempat minum burungnya diperiksa, hehe,” ujarnya tertawa.

Mengecek saluran atau talang air yang mampet, menutup lubang pada pohon atau pagar, memberikan Larvasida atau Abate di tempat penampungan air yang susah dikuras juga ia sarankan.

“Yuk kita bismillah, mulai dari rumah. Periksa ada pakaian yang digantung udah agak lama nggak. Bau keringat manusia, nyamuk suka,” imbuh dia, menyebut ada baiknya memasang kawat kasa pada ventilasi jendela.

Ada lagi? “Masih ada cara cegah lain. Suka berkebun di rumah? Atau pelihara ikan? Tambahin ikan pemakan jentik dan tanaman pengusir nyamuk. Jadi stok losion, spray atau repellent anti nyamuk di rumah gak cepet abis,” jelasnya, lagi-lagi tertawa.

Salutnya, walau diselingi canda, Andi mampu cepat menyebut jenis ikan dan tanaman pengusir nyamuk itu.

“Tahu tapak dara? Atau istilahnya Geranium? Nah itu, trus kecombrang atau kincung, ada juga Marigold yang biasa disebut bunga tahi ayam. Lalu, apa namanya, sereh wangi, selasih, tau dong? Ada lagi Zodia, Suren, Lavender dan Rosemary,” urainya lagi.

Manfaatnya? “Selain mengusir dan menghindari gigitan nyamuk, halaman rumah kita jadi asri, banyak toga (tanaman obat keluarga, Red), udara lebih segar, bisa jadi usaha sampingan, bisa nambah tetangga,” selorohnya.

Bagaimana dengan ikan? “Bangsa kita suka makan ikan. Kalau nggak, awas ditenggelamkan Bu Susi, hehe. Nah, kalau kita hobi memelihara ikan ikan cupang, ikan mas, atau nila merah, udah pas itu, efektif bunuh nyamuk.”

Benarkah? “Iya. Ada juga ikan cere, ikan kepala timah, sama ikan cetul. Setahu saya kalau cupang itu predator alami pembunuh nyamuk, dengan yang lain cupang juga sikat habis kutu air,” ujar Ketua Yayasan Alfian Husin itu.

Dengan memelihara ikan pemakan jentik, kata motor pengusulan kajian ilmiah pemindahan ibu kota pemerintahan negara ke Lampung ini, membantu pembersihan kotoran atau residu menempel di bak mandi, dan memutus siklus perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti.

“Nyamuk DBD biasanya menggigit pada jam 9 sampai jam 10 pagi, terus jam 4 sampai jam 5 sore. Di luar itu kalau kata kita, nyumput, istirahat di tempat-tempat favoritnya. Jadi, saran saya, kita ikuti anjuran pemerintah, 1 rumah 1 jumantik, 1 jumantik 1 rumah. Oke ya?” tutupnya memberi kode untuk mengakhiri wawancara guna pamit kepada warga.

Suryati (50), warga RT 10, Pidada II, Panjang Utara, yang kebetulan istri ketua RT yang baru meninggal dunia beberapa waktu lalu, berterima kasih atas kepedulian tim blusukan Bravo 5 dan Almisbat. “Kami terharu, apalagi musim ujan kayak gini bahaya DBD kan selalu datang ya Pak. Sekali lagi terima kasih,” ungkapnya, pukul 15.38 WIB, Rabu (30/1/2019) sore itu. (*)

266 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan

www.videobokep18.xyz rentalmobilpontianak www.pornvids.xyz fullbokep